Sesuai tradisi kultur masyarakat Timur, perayaan pernikahan syarat akan simbol yang bermakna baik dan disertai ritual atau prosesi tertentu, sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan. Salah satunya melalui ritual tarian. Tradisi pengantin menari berlaku di sejumlah kultur masyarakat Indonesia, diantaranya Palembang, Gorontalo, Karo dan Lampung.

Pada umumnya, ritual pengantin menari bukan dimaksudkan untuk menunjukkan kepiawaian menari. Pengantin sebenarnya bukan penari profesional, namun di beberapa adat memang diharuskan menari dan pengantin harus berlatih untuk hal tersebut. terlebih lagi, ritual pengantin menari dilaksanakan di depan para tamu undangan, sehingga seluruh perhatian tertuju kepada pengantin.

Ada beberapa maksud dari tarian pengantin, ada yang bermakna melepas masa lajang, ada juga yang bermakna perayaan telah menikah, ada juga yang bermakna selamat datang bagi pengantin wanita ke dalam keluarga besar pria. Tradisi seperti ini juga banyak dilakukan di Eropa yang rata-rata melakukan dansa untuk perayaan hari bahagia bagi kedua pengantin.

Jelas akan menjadi berbeda tariannya karena pengantin tidak memiliki basic menari. Berbeda dengan penari aslinya yang luwes dalam menggerakkan tubuh. Tradisi ini biasanya berkaitan dengan status, sekarang ini banyak pesta pernikahan yang memeriahkan pesta dengan adat agar menunjukkan status. Seperti adat Batak dengan menari tor-tor dengan sikap tangan yang berbeda-beda ketinggiannya, misalnya hanya sebatas dada, diatas dada, hingga tinggi sebatas telinga, hal ini menunjukkan status keluarga tersebut.

Jika semakin tinggi tangan yang diangkat, maka artinya tinggi juga status sosialnya dalam masyarakat atau tergolong kelas yang tinggi.

Apapun makna di balik ritual tarian pengantin, tradisi menari pengantin ada turun temurun sejak dahulu. Tak banyak literatur yang menuturkan asal muasal atau sejarah tradisi pengantin menari yang kini lestari, bahkan di kota-kota besar sekalipun. Berlatih menari atau gladi resik menjadi agenda penting dalam persiapan pernikahan yang dilakukan calon pengantin.

#1. Pagar Pengantin – Palembang.

Tari pagar pengantin berasal dari Kota Palemban, Sumatera Selatan. TArian yang dilakukan oleh pengantin wanita ini diiringi empat-enam orang lainnya. Tarian tersebut menggambarkan tarian terakhir dari pengantin wanita sebagai simbol melepaskan masa lajang. Mempelai wanita berdiri di atas nampan keemasan yang ditaburi bunga mawar merah, sebagai perlambang keindahan bunga tertai yang tumuh dan terlindungi di dalam lingkaran pagar. Tarian ini dilakukan di depan mempelai pria, menggambarkan bahwa pengantin wanita telah menikah dan bertindak selaku istri yang mengikuti norma-norma dan etika berumahtangga.

Prosesi Tari Pagar Pengantin berlangsung setelah pasangan pengantin disertai enam orang pengiring wanita dan dua pengawal atau hulualang memasuki ruang resepsi. Sebelu naik ke pelaminan, pengantin wanita berdiri di atas nampan emas yang bertabur kelopak mawar merah, kemudian para pengiring akan menyematkan kuku panjang keemasan. Pengantin menari disertai empat penari lainnya diirini Lagu Gending Sriwijaya. Lirik lagu Gending Sriwijaya seara tersirat menggambarkan mempelai wanita siap memasuki kehidupan rumah tangga sebagai seorang istri, dan juga permohonan doa dan restu kepada para sesepuh dan tamu yang menghadiri resepsi pernikahannya. SEmentara mempelai pria, berdiri di luar lingkaran tarian sambil menyaksikan mempelai wanita menari. Seusai menari, para pengiring akan melepas kuku emas dari jari tangan pengantin wanita, kemudian pasangan mempelai menaikkan pelaminan, dan bersanding didampingi kedua orang tua.

#2. Adu Pengantin – Karo.

Adu pengantin Karo merupakan prosesi diana pengantin pria dan wanita Karo bernyanyi dan menari di tengah pesta. Ritual tersebut merupakan tradisi turun temurun kultur adat Karo di acara pesta pernikahan. Adu Pengantin juga sebagai tanda penyambutan terhadap seluruh keluarga dari pihak laki-laki mapun perempuan.

Prosesi tersebut dilaksanakan setelah rangkaian prosesi adat dan tradisi yang mendahuluinya dilaksanakan, yakni pemberkatan di gereja atau akad nikah. Penjemputan mempelai wanita, hingga serah terima mahar sesuai kesepakatan. Biasanya berlangsung pagi hari, sekiar jam 10.00.

Sebelum melakukan Adu Pengantin, ada beberapa tata cara adat dilakukan pihak wakil keluarga mempelai wanita dan wakil keluarga mempelai pria. Termasuk di dalamnya menyerahkan mahar yang dilakukan tiga kali atau tiga tahap. Setelah itu, pengantin pria dan wanita ke tengah ruang pesta, dan menari bersama. Selain menari, juga menyanyi, bergantian, dimulai oleh pengantin prianya.

Suasana ritual Adu Pengantin tentu meriah, lantaran kedua mempelai unjuk kebolehan menari adat sambil menyenyi lagu-lagu daerah Karo secaa bergantian. Para tamu akan memberi uang saweran secara langsung kepada mempelai yang berhasi merebut perhatian tamu undangan. Uang akan disisipkan di saku jas pengantin pria. kalau saweran diberikan kepada mempelai wanita, akan disisipkan di jari tangan kemudian disimpan dalam tas anyaman khas Karo.

Lagu yang dinyanyikan biasanya dipilih sesuai dengan keinginan pengantin dan biasanya pengantin pria dan wanita masing-masing menyanyikan dua lagu. Untuk tarian sendiri sebenarnya adalah tarian umum di adat Karo, namun pengantin harus menesuaikan irama musik dengan hendakan kaki dan gerakan tangan.

#3.Saronde & Tidi Daa – Gorontalo.

Setiap masyarakat tradisional memiliki cara masing-masing dalam melaksanakan upacara termasuk masyarakat Gorontalo. Seni tari dalam upacaa perkawinan adat Gorontalo pada awalnya hanya dilakukan mereka yang berstatus bangsawan. namun kini tadisi pengantin menari juga dilakukan masyaakat etnik Gorontalo pada umumnya.

Tari Saronde merupakan salah satu tari pergaulan yang dilakukan dalam acaa adat pengantin Gorontalo. Tarian ini lebih tepatnya sebagai ungkapan perpisahan calon pengantin pria dengan para sahabat-sahabatnya yang masih bujangan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Sehari sebelum acara pernikahan, calon mempelai pria beserta keluarga dan sahabat-sahabat yang masih bujang berkesempatan mendatangi kediaman keluarga calon mempelai wanita. Setelah penyerahan barang hantaran atau seserahan, calon mempelai pria berkalung selendang menari dengan iringan tabuhan rebbana dan nyanian vocal. Diawali dengan tempo lambat yang semakin lama semakin cepat. Dalam penyajiannya, calon pengantin pria diharuskan menari, demikian juga dengan orang yang diminta untuk menari ketika dikalungkan selendang oleh pengantin dan para penari pengiringnya. Iringan rebana yang sederhana merupakan bentuk musik yang sangat akrab bagi masyarakat Gorontalo yang kental dengan nuansa religius. Selama berlangsung tradisi Tari Saronde, calon mempelai wanita hanya berada di dalam kamarnya, sembari melihat rangkaian acara ditemani oleh para sahabat.

Ritual menari juga dilaksanakan mempelai wanita di resepsi pernikahan. Mempelai wanita didampingi seorang wanita kepercayaannya atau keluarga dekatnya yang telah berkeluarga, menari Tidi Daa atau Tidi Loilodiya. Mempelai wanita mengenakan busana adat pengantin Gorontalo menari di atas pelaminan dengan memegang sebilah pedang Polopalo dalam genggaman. Dengan tabuhan rebbana, mempelai pria duduk di pelaminan memainkan rebbana sambil menyaksikan ritual tari pengantin istrinya.

Senjata pedang melambangkan keras kerja, dimana pedang itu harus digerakkan dan dibunyikan terus sebagai gamaran etos kerja tinggi. Secaa umum, lewat pedang itu melukiskan kaum wanita suku bangsa Gorontalo adalah pahlawan-pahlawan rumah tangga. Setiap gerakan tari mempelai wanita dengan memegang pedang di tangan, memiliki makna bahwa sebagai seorang istri ia selalu siap sedia membentengi diri dan keluarga dari segala kesulitan.

#4. Tari Pengantin – Lampung.

Tradisi pengantin menari juga terdapat pada adat Lampung. Bisa jadi tak banyak yang tahu dalam tata cata pernikhan adat Lampung bahwa pengantin wanita akan menari bersama beberapa orang pengiringnya. Secara garis besar, Tari Pengantin Lampung hampir serupa dengan Tari Pagar Pengantin adat Palembang. Mempelai wanita yang mengenakan busana adat Papadun Sungkai dengan perhiasan mahkota Siger keemasan di kepala, menari di atas nampan kuning keemasan berbentuk lingkaran, diiringi empat penari pengiringnya. Sebelum menari, pada jari tangan pengantin Lampung disematkan kuku berbentuk melengkung panjang dari logam keemasan.

Prosesi Tari Pengantin Lampung dilaksanakan pada resepsi pernikahan. Para penari pengiring terlebih dahulu memasuki ruang resepsi, disusul kemudian pasangan mempelai beserta kedua orangtua dan keluarganya. di depan pelaminan para pengiring membentuk formasi melingkar, di tengahnya diletakkan nampan bulat keemasan. Pengantin wanita dipersilahkan ke tengah ormasi lingkaran dan berdiri di atas nampan. Lagu adat Lampung dengan iringan musik tradisional pun bergema, kemudian ritual menari pengantin dimulai. Tarian hanya berlangsung sekitar lima menit, dimana pemandu adat juga mengiringinya dengan syair ungkapan rasa syukur dan permohonan doa restu yang mewali ungkapan hati dan kebahagiaan kedua mempelai.

Ada banyak tarian adat yang berasal dari nusantara, masing-masing memiliki keunikan. Beruntung bagi calon pengantin yang menikah secara adat karena telah mewarisi filosofi nenek moyang. Untuk itu Dewi’s Wedding sebagai penyedia jasa pernikahan siap membantu calon pengantin dalam merayakan pernikahan mereka dengan upacara adat dan tarian pengantin. Kami berharap memiliki andil dalam melestarikan adat istiadat nusantara.