Gordang Sambilan adalah salah satu kesenian Tradisional suku Mandailing. Gordang artinya gendang atau bedug sedangkan sambilan artinya sembilan.


Gordang Sambilan terdiri dari sembilan Gendang atau bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang berbeda sehingga menghasilkan nada yang berbeda pula. Gordang Sambilan biasa dimainkan oleh enam orang dengan nada gendang yang paling kecil 1,2 sebagai taba-taba,gendang 3 tepe-tepe,gendang 4 kudong-kudong,gendang 5 kudong-kudong nabalik,gendang 6 pasilion,gendang 7,8,9 sebagai jangat. Dahulu gordang sambilan hanya dimainkan pada acara-acara yang sakral,seiring dengan berkembangya kultur sosial masyarakat saat ini gordang sambilan sudah sering diperdengarkan baik dalam acara pernikahan,penyambutan tamu,hari besar.  Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia Gordang sambilan sudah pernah di mainkan di istana presiden (sumber: id.wikipedia)

Bagaimana Asal-usul Alat Musik Ini?

Disaat orang Mandailing menganut animisme yang disebut Sipelebegu, Gordang Sambilan digunakan untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Ritus tersebut dinamakan Pasusur Begu atau Paturuan Sibaso yang artinya memanggil roh untuk merasuki tokoh Shaman (Sibaso) yang berfungsi sebagai medium. Tujuannya untuk minta pertolongan roh leluhur guna mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat huta atau banua, misalnya mewabahnya penyakit berjangkit dan menular seperti kolera. Selain itu, Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan atau sebaliknya menghentikan hujan yang turun terlalu lama dan menimbulkan kerusakan ekosistem.

Gordang sambilan terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda. Setiap gendang menghasilkan jenis suara berbeda dan memiliki nama esembelnya sendiri. Namun, penamaan tersebut berbeda-beda di setiap daerah Mandailing. Misalnya, pada masyarakat di Gunung Tua – Muarasoro, nama gendang secara berurutan (dari yang paling kecil hingga yang paling besar) antaralain eneng-eneng, udang-kudang, paniga dan jangat.

Dari Bahan Apa Gordang Sambilan Dibuat?

Tabung resonator gordang sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi dan salah satu ujung lobang di bagian kepalanya ditutup dengan membran berupa kulit lembu yang ditegangkan dan diikat dengan rotan.

Instrumen musik tradisional ini dilengkapi dengan sebuah ogung boru boru (gong berukuran paling besar atau disebut gong betina), ogung jantan (gong berukuran lebih kecil), doal (gong yang lebih kecil dari ogung jantan), tiga salempong atau mongmongan (gong dengan ukuran yang paling kecil). Selain itu, ada alat tiup terbuat dari bamboo yang dinamakan sarune atau saleot, dan sepasang sambal kecil yang dinamakan tali sasayat.

Bagaimana Cara Memainkannya?

Pada permainan ensambel gordang sambilan, yang memimpin adalah disebut Panjangati – orang yang memainkan gordang yang paling besar (jangat). Seorang panjangati harus menguasai pola ritmik setiap instrument dalam ansambel gordang sambilan dan memiliki selera ritme yang sangat tinggi. Dia bertugas mengolah nada-nada ritme dari semua pola ritmik instrument gordang sambilan. Tiap instrument jika diberi aksen yang berbeda akan menimbulkan efek ketengangan yang berbeda.

Gordang Sambilan Dalam Acara Pernikahan Hingga Kematian.

Sedangkan penggunaannya dalam upacara adat, Gordang Sambilan dimainkan pada upacara perkawinan yang dinamakan Orja Godang Markaroan Boru dan upacara kematian yang dinamakan Orja Mambulungi. Penggunaan Gordang Sambilan untuk kedua upacara adat tersebut, karena untuk kepentigan pribadi maka harus lebih dahulu mendapat izin dari pemimpin tradisional yang dinamakan Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung sebagai kepala pemerintahan Huta/Banua. Permohonan izin itu dilakukan melalui suatu musyawarah adat yang disebut Markobar Adat yang dihadiri oleh tokoh-tokoh Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung beserta pihak yang akan menyelenggarakan upacara adat. Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan Raja Panusunan Bulung untuk penggunaan Gordang Sambilan dalam kedua upacara tersebut, harus pula disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang disebut longit. Jika persaratan tersebut tidak dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan. Dapat ditambahkan bahwa untuk upacara kematian (Orja Manbulungi), gordang yang digunakan hanya dua buah yang terbesar yang dinamakan Jangat, namun dalam konteks penyelenggaraan upacara kematian dinamakan Bombat.

Selain harus mendapat izin dari Namora Natoras dan raja, penggunaan Gordang Sambilan dalam upacara perkawinan (Orja Godang Markaroan Boru) dan untuk upacara kematian (Orja Mambulungi) juga harus disembelih paling sedikit satu ekor kerbau jantan dewasa yang sehat. Namun apabila persyaratan tersebut belum dapat dipenuhi maka Gordang Sambilan tidak boleh digunakan.

Untuk upacara kematian (Orja Mabulungi) yang dipergunakan hanya dua buah yang terbesar dari instrumen Gordang Sambilan yang digunakan (jangat). Akan tetapi khusus untuk upacara kematian istilah itu digunakan adalah bombat.

Penggunaan Gordang Sambilan dalam upacara adat biasanya disertai dengan peragaan benda-benda kebesaran adat, seperti bendera-bendera adat (tonggol) payung kebesaran yang yang dinamakan Payung Raranagan. Adapun fungsi lain dari Gordang Sambilan adalah sebagai pengiring tari yang dinamakan Sarama. Penyarama (orang yang menarikan Tari Sarama) kadang-kadang mengalami kesurupan (trance) pada waktu menari karena sudah dimasuki roh nenek moyang.

Pada perkembangannya Gordang Sambilan ini masih digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai alat musik sakral. Meskipun demikian saat ini Gorndag sambilan juga dikenal sebagai alat musik kesenian tradisional Mandailing yang sudah mulai populer di Indonesia bahkan di dunia.


Ingin mengadakan resepsi pernikahan adat Mandailing? Menggunakan Gordang Sambilan? Lihat Paket Pernikahan kamisebagai pertimbangan buat keluarga.

Credit : https://www.kemendikbud.go.id