Setiap detil riasan, hiasan dan busana Paes Ageng Yogyakarta selain terkenal akan keindahan dan kerumitannya, juga sarat akan makna filosofi yang bermuara pada kesakralan kehidupan berumah tangga. Artinya biduk rumah tangga bukanlah sesuatu yang bisa ditanggapi secara main-main atau pun sekedar mengejar status. Sebaliknya, kedua mempelai haruslah satu hati dan satu pemikiran untuk mencapai puncak kebahagiaan. Paes ageng sendiri dulunya hanya boleh dikenakan bagi anggota keluarga kraton. namun sejak Sultan Hamengku Buwono IX, Paes Ageng diijinkan bagi masyarakat umum dan dalam waktu singkat berkembang pesat, bahkan menjadi trend.

Inilah beberapa makna filosofi busana Paes Ageng Yogyakarta:

1. Keris.

Keris diselipkan pada lonthong atau setagen di pinggang bagian belakang. Gagangnya dihias ronce bunga sritaman. Selain sebagai lamban keperkasaan seorang lelaki, keris juga memiliki makna bahwa manusia harus mampu menolak godaan setan dan selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Kuluk Mathak, Sumping Emas dan Kelat Naga.

Mempelai pria mengenakan tutup kepala bernama Kuluk Mathak. Hiasan telinga yang disebut Sumping Emas, merupakan simbol mempelai pria memiliki pendengaran atau kepekaan terhadap kondisi sekitar. Kelat bahu berbentuk naga yang kepala dan ekornya membelit, melambangkan bersatunya pola rasa dan fikir sehingga memberi kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, naga dipercaya sebagai hewan suci yang menyangga dunia.

3. Paes Ageng Mempelai Wanita.

Penyedia jasa Rias Pengantin profesional mesti memahami filosofi Paes Ageng. Dalam rias Paes Ageng, bagian dai mempelai wanita dilukis. Pertama adalah Citak, yaitu bentuk belah ketupat atau layang-layang kecil antara dua alis. Citak ini dipercaya sebagai pusat panca indera dan memberi watak pada keseluruhan ide Paes.

Pada atas Citak, tepatnya di garis pangkal rambut, dibuat cengkorongan ang terdiri atasi Panunggul, Pengapit, Penitis dan Godheg. Panunggul berasal dari kata tunggal yang berarti terkemuka atau tertinggi, sehingga maknaya adalah wanita yang menjadi pengantin tersebut ditinggikan derajatnya atau dihormati.

Di sebelah kiri dan kanan Panunggul ada Pengapit, yakni berbentuk seperti gunung namun lebih langsing. Memiliki makna harapan kelancaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sedangkan di antara Pengapit dan Godheg ada Penitis yang bermakna sgala sesuatu harus memiliki tujuan dan tepat sasaran.

Godheg sendiri maknanya agar kedua mempelai senantiasa melakukan introspeksi diri dan melaksanakan segala sesuatu tidak gegabah ataupun terburu-buru.

Baik Pengapit, Panitis, Maupun Godheg, dibuat sebagai penyeimbang wajah. Dan ditengah-tengah Panunggul diberi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu hewan yang selalu bergerak. Makna kiasan ini adalah harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup.

Riasan mata dibentuk dua garis hitam dengan ujung menyatu dan mengarah pada kepala atau disebut jahitan. Arah tersebut melambangkan pusat pemikiran, artinya kedua mempelai diharapkan memiliki satu pemikiran. Sementara di bagaian bawah, dipasang Gajah Ngoling. Haitu seuntai ronce melati berbentuk belalai gajah dengan panjang sekitar 40 sentimeter menjuntai hingga menyentuh punggung. Gajah Ngoling, memiliki makna kesucian atau kesakralan. Menunjukkan kesucian niat dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang sakral.